Oleh : Eka Mustika Yanti, S. ST, M. Psi (Dosen STIKes Hamzar)

Memiliki keturunan adalah cita-cita luhur hampir semua pasangan. Untuk mencapainya ada satu tahap penting yang harus dilewati, yaitu kehamilan. Kehamilan bagi seorang wanita merupakan hal yang membahagiakan sekaligus menggelisahkan. Membahagiakan karena akan memperoleh keturunan yang menjadi pelengkap dan penyempurna hidup sebagai wanita, namun juga menggelisahkan karena penuh dengan perasaan takut dan cemas mengenai hal-hal buruk yang dapat menimpa dirinya terutama pada saat proses persalinan. Menghadapi persalinan merupakan salah satu faktor yang dapat menimbulkan kecemasan.

Kecemasan adalah kekhawatiran atau ketegangan yang tidak jelas, perasaan tidak berdaya dan tidak pasti serta tidak memiliki objek yang spesifik, yang dialami secara subjektif dan dikomunikasikan secara interpersonal.

Kesehatan ibu hamil pada era pandemi Covid-19 ini harus jadi skala prioritas bagi dunia medis saat ini. Mengapa tidak, generasi penerus bangsa ada sama mereka dan mereka harus kita rawat (kelola) dengan baik agar terhindar dari hal –hal yang tidak kita inginkan. Bagaimana kondisi ibu hami pada era pandemi Covid-19 ini menjadi sebuah penelitian khusus yang sangat manarik bagi kami dan kami paparkan di bawah ini sebagai tanggung jawab kami memberikan literasi dan edukasi kesehatan (Leo, 2020).

Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) sebanyak 64,3 persen dari 1.522 orang responden memiliki masalah psikologis cemas atau depresi setelah melakukan periksa mandiri via daring terkait kesehatan jiwa dampak dari pandemi COVID-19. Dari 1.522 responden tersebut paling banyak adalah perempuan 76,1 persen dengan usia minimal 14 tahun dan maksimal 71 tahun.

Selain itu, hasil penelitian (Leo, 2020) didapatkan 99 ibu hamil sebagai subjek yang memenuhi kriteria penelitian. Didapatkan 72 dari 99 ibu hamil atau 72,7% tidak mengalami kecemasan. Sedangkan 27 ibu hamil atau 27,3% mengalami kecemasan, dengan 24 ibu hamil (24,3%) mengalami kecemasan ringan dan 3 ibu hamil (3%) mengalami kecemasan tingkat sedang. Dari kuesioner HAM-A yang diberikan, terdapat beberapa kelompok pertanyaan mengenai gejala kecemasan yang dirasakan sedang hingga berat pada ibu hamil. Beberapa kelompok pertanyaan tersebut adalah tentang perasaan cemas, ketegangan, ketakutan, gangguan tidur, dan gangguan kecerdasan (seperti sulit konsentrasi atau daya ingat menurun).

Swaperiksa kesehatan jiwa terkait COVID-19 tersebut memeriksa tiga masalah psikologis yaitu cemas, depresi, dan trauma psikologis. Gejala cemas paling utama yang dirasakan responden adalah merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir berlebih, mudah marah atau jengkel, dan sulit untuk rileks. Sementara gejala depresi utama yang dirasakan adalah gangguan tidur, kurang percaya diri, lelah tidak bertenaga, dan kehilangan minat. Hal itu dirasakan oleh para responden pada separuh waktu dan hampir sepanjang hari dalam dua minggu terakhir.

Sebanyak 80 persen orang memiliki gejala stres pascatrauma psikologis karena mengalami atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan terkait COVID-19. Dari responden yang mengalami trauma psikologis tersebut, 46 persen mengalami gejala berat, 33 persen gejala sedang, 2 persen gejala ringan, dan 19 persen tidak ada gejala. Gejala stres setelah trauma yang menonjol adalah merasa berjarak dan terpisah atau tidak terhubung dengan orang lain, dan merasa terus waspada, berhati-hati, berjaga-jaga. Selain itu ada pula gejala lain seperti mati rasa, ledakan kemarahan atau mudah kesal, sulit tidur, dan memiliki masalah konsentrasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan pada ibu hamil diantaranya adalah kurangnya informasi mengenai penyakit, dukungan keluarga, kecukupan keuangan (Lexshimi, dkk; 2007), stres dari lingkungan (Cury & Menezes, 2007), frekuensi mual dan muntah yang tinggi (faktor kesehatan fisik ibu hamil) (Swallow, dkk., 2004), sikap terhadap kehamilan dan kemampuan penguasaan kehamilan (Gurung, dkk., 2005), proses penyesuaian diri terhadap kehamilan (Bibring, dalam Stotland & Stewart, 2001) baik secara fisik (Andriana, 2007) maupun psikososial (Gross dan Helen, 2007), serta informasi tentang pengalaman persalinan yang menakutkan (Andriana, 2007).

Nah, bagaimana jika ibu hamil merasa cemas selama masa new normal covid-19? Apalagi, kecemasan dapat mempengaruhi kondisi psikis dan fisik ibu hamil yang sedang hamil, serta kesehatan si janin (Schetter & Tanner, 2012). Berikut hal-hal yang dapat ibu hamil lakukan untuk mengelola kecemasan :

  1. Cari tahu apa yang membuat ibu hamil cemas

Tuliskan hal-hal apa yang sebenarnya membuat ibu hamil cemas. Tidak hanya itu, ibu hamil juga dapat mendiskusikan dengan suami, kira-kira apa yang paling membuat ibu hamil cemas dengan kehamilannya melihat situasi pandemi ini. Apakah karena takut ke rumah sakit? Atau takut terinfeksi terhadap kehamilannya yang akhirnya membuat ibu hamil mengurung diri di rumah tanpa melakukan kegiatan positif? Jika telah mengetahui sumber kecemasan ibu hamil, ajak suami untuk bersama-sama mencari solusinya. Tidak hanya itu, ibu hamil juga dapat berkonsultasi dengan Obgyn atau Psikolog untuk membantu melihat solusi apa saja yang dapat ibu hamil lakukan.

  1. Mengurangi mencari informasi tentang Covid-19

Mendapatkan informasi tentang perkembangan covid-19 merupakan hal yang penting, sehingga kita bisa mengantisipasi kondisi kita. Namun, terlalu banyak mencari-cari berita tentang covid-19 pun juga tidak baik ya ibu-ibu, karena hal ini bisa memicu rasa kecemasan yang berlebihan, memicu rasa takut yang tidak dapat dihindari. Untuk sementara waktu, mengurangi mencari informasi tentang covid-19 sangat diperlukan.

  1. Meningkatkan kegiatan jika di rumah

Meningkatkan aktivitas terbukti dapat menghilangkan cemas dan meningkatkan koping (cara menyelesaikan masalah) pada seseorang. Pada ibu hamil kegiatan yang dapat dilakukan bisa dengan membaca buku, menonton film, olahraga ringan, bermain bersama anak, memasak masakan kesukaan keluarga dan sebagainya.

  1. Menjaga kesehatan fisik

Kecemasan lebih mudah muncul jika ibu hamil mengalami kelelahan. Makan secara teratur, tidur yang cukup, dan berolahraga merupakan kegiatan utama yang tetap perlu dijalankan di masa pandemi ini. Tentunya lakukan kegiatan olahraga yang tetap memiliki social distancing terhadap orang lain, dan tetap menjaga diri supaya tidak bersentuhan dengan barang atau orang lain. Jika sulit untuk keluar rumah, ibu hamil dapat melakukan senam hamil dengan fitur siaran langsung pada aplikasi media sosial yang marak dilakukan oleh pelatih yoga atau senam pre-natal.

  1. Fokus pada kesehatan ibu, si janin, dan keluarga

Menerapkan budaya yang sehat bersama keluarga akan membantu ibu hamil menciptakan pengalaman positif. Ibu hamil dapat mencetak kalimat pengingat misalnya “Ganti baju setelah pergi” atau “Yuk cuci tangan” pada sudut-sudut rumah, atau dengan reminder di ponsel ibu hamil. Dengan begitu, ibu hamil tidak akan merasa sendiri dalam menghadapinya.

Hal terbaik yang dapat ibu hamil lakukan untuk menjaga kehamilan saat ini adalah menjaga diri dan lingkungan, serta mengurangi aktivitas di tempat umum. Jika ibu hamil membutuhkan interaksi sosial dengan orang lain, ibu hamil dapat mengajak teman atau saudara untuk saling komunikasi via virtual, dan bergabung ke komunitas parenting. Untuk mengecek kesehatan janin, ibu hamil dapat berkonsultasi dengan dokter atau pihak medis yang biasa ibu hamil lakukan. Lakukan konsultasi dengan perjanjian untuk menghindari keramaian, dan tetap menjalankan rutinitas menjaga kebersihan diri.

Jangan khawatir, tetap sehat dan semangat ya untuk  Ibu Hamil & janin!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *